Ceramah Singkat: Hati-Hati dengan Pujian – Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, M.Sc.

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Sodara semuslim pengunjung blog saya yang dirahmati Allah Subhanallah wa Ta’ala. Alhamdulillah, kita bisa berjumpa kembali dalam sebuah tulisan blog yang sederhana ini tapi insyaAllah kita akan mendapatkan ilmu yang bermanfaat dari ini. Ijinkanlah saya kali ini kembali membagi ilmu yang saya dapatkan dari ceramah Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, M.Sc.yang berjudul “Hati-Hati dengan Pujian”. Baiklah tanpa memperpanjang lagi berikut sedikit uraian dari video ceraamah singkat beliau :

Kita dapat mengambil suatu pelajaran dari sahabat yang mulai yaitu Abu Bakar As-Shiddiq RA. Dimana beliau ini adalah orang terbaik sepeninggal Nabi kita Muhammad Salallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika beliau mendapatkan suatu pujian, yaitu pujiannya adalah di hadapan dirinya. Orang-orang menyanjung dirinya. Maka apa yang beliau katakan ketika itu? Abu Bakar As-Shiddiq kemudian mengatakan :

اللَّهُمَّ أَنْتَ أَعْلَمُ مِنِّى بِنَفْسِى وَأَنَا أَعْلَمُ بِنَفْسِى مِنْهُمْ اللَّهُمَّ اجْعَلْنِى خَيْرًا مِمَّا يَظُنُّوْنَ وَاغْفِرْ لِى مَا لاَ يَعْلَمُوْنَ وَلاَ تُؤَاخِذْنِى بِمَا يَقُوْلُوْنَ

Artinya : “Ya Allah engkau lebih mengetahui  keadaan diriku dari diriku sendiri dan aku lebih mengetahui keadaan diriku dari pada mereka (yang memuji). Ya Allah, jadikan aku lebih baik dari apa yang mereka sangkakan. Ya Allah, ampunilah aku atas perkataan-perkataan mereka yaitu sanjungan-sanjungan mereka. Ya Allah, janganlah siksa aku dengan pujian mereka tujukan kepadaku”.

Banyak pula salaf yang ketika dipuji malah marah. Diceritakan bahwasanya ada seorang salaf ketika dia dipuji malah dia marah. Kemudian dia mengingkari pujian tersebut misalkan:  ‘kamu adalah orang yang sholeh’. Dia mengingkari pujian tersebut. Dia itu marah. Lalu dia berdoa, doa seperti tadi (di atas seperti apa yang diucapakan Abu Bakar As-Shiddiq).

Hal ini menunujukkan bahwasanya kita jangan suka apabila di puji orang lain. Orang-orang yang mulia saja seperti Abu Bakar As-Shiddiq. Begitu juga yang disebutkan dari cerita berbagai ulama para salaf, mereka ketika dipuji, mereka tidak merasa senang dengan pujian tersebut karena yang namanya pujian itu bisa meruntuhkan atau bisa menghapuskan amalan seseorang.

Ibnu Thaimiyah berkata bahwasanya bisa terhapus karena riya dan karena ujub. Riya dan ujub menunjukkan bahwa dia tidak merealisasikan firman Allah Subhanallah wa Ta’ala yang terdapat di dalam surat Al-Fatihah Ayat 5 :

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

Artinya : “Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan. ”

Karena yang pertama ini, dia beribadah kepada selain Allah. Sementara yang kedua, dia merasa bahwa dirinyalah yang berbuat, bukan atas pertolongan Allah sehingga karena sebab ini, Ibnu Thaimiyyah katakan bahwasanya inilah yang bisa menghapuskan amalan seseorang.

Riya itu bisa menghapuskan amalan seseorang sebagaimana Allah Subhanallah wa Ta’ala mengatakan dalam hadits kudsi :

قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ فِيهِ مَعِى غَيْرِى تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ

Artinya : “Aku tidak peduli terhadap kesyirikan, Barang siapa yang melakukan suatu amalan dimana dia mempersekutukanku dengan selainku maka aku akan meninggalkan dirinya dan juga amalannya.”

Sedangkan ujub tadi adalah merasa bangga pada diri sendiri, merasa bangga terhadap amalan yang diperbuat, dia merasa itu adalah hasil usahanya bukan dari taufik Allah Subhanallah wa Ta’ala. Dia menyangka bahwasanya itulah yang dia lakukan. Ya ini karena ilmu yang saya peroleh, ini karena amalan yang saya lakukan sendiri, bukan dari taufik Allah Subhanallah wa Ta’ala. Sehingga ini juga bisa meruntuhkan amalan dia.

Maka Ibnu Thaimiyyah pernah menceritakan suatu perkataan dari Sa’ad bin Jubair,  dimana dia mengatakan bahwasanya, ada seorang itu yang beramal kebaikan malah bahwa dia itu masuk neraka, ada seorang yag beramal kejelekkan malah dia itu masuk surga.

Ada seorang yang beramal kebaikan dia itu merasa ujub dengan amalan kebaikannya tadi malah setelah itu amalan kebaikannya itu jadi gugur, jadi terhapus gara-gara sebab ujub yang ada pada dirinya. Dia merasa bangga dengan amalannya tersebut. Sedangkan yang kedua ada orang yang dia itu orang yang gemar bermaksiat tapi kemudian dia masuk surga. Hal itu terjadi karena ia tutup amalan akhirnya dengan bertaubat kepada Allah  Subhanallah wa Ta’ala sehingga Allah masukkannya ke dalam surga karena Rasulullah Salallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dari Sahl bin Sa’ad :

وَإِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ

Artinya : “Sesungguhnya amalan itu tergantung dari akhirnya.” (HR. Bukhari).

Pelajaran yang dapat kita ambil disini bahwasanya kita seharusnya tidak suka dengan pujian. Kita harus sering intropeksi diri, barangkali kita tidak sesuai dengan apa yang di pujiankan tadi, mari kita banyak beristghfar kepada Allah Subhanallah wa Ta’ala dan kita mohon kepada Allah Subhanallah wa Ta’ala agar kita bisa menjadi seseorang yang lebih baik dari pada pujian yang kita dapatkan dan semoga kita dapat terlepas dari sifat ujub dan sifat riya yang dapat menghapuskan amalan kita. Aamiin.

Itulah sedikit ilmu yang bisa saya bagikan kepada sodara-sodara sekalian. Berikut saya lampirkan pula video ceramahnya :[youtube https://www.youtube.com/watch?v=K3U5edPMXIc]

Semoga apa yang telah disampaikan bermanfaat bagi kita semua. Jazakallah Khairan

وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *